Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau turun pada awal perdagangan sesi I Kamis (5/1/2023), karena investor khawatir setelah melihat prediksi ekonomi global di 2023 oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan Risalah The Fed yang tak sesuai harapan. Serta faktor dari domestik
Hingga pukul 09:14 WIB, IHSG ambruk 1,94% ke posisi 6.681,94. IHSG pun keluar dari zona psikologis 6.800 dan kini diperdagangkan kembali di level psikologis 6.700.
10 saham berkapitalisasi terbesar juga berjatuhan pada pagi hari ini dan turut membebani pergerakan IHSG.
Akar penurunan tersebut tak lepas dari kabar Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang membuat gempar banyak orang di global dan dalam negeri, setelah mereka merilis proyeksi ekonomi global di tahun 2023.
Meski ngeri, ramalan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, tiga mesin utama ekonomi dunia yakni Amerika Serikat (AS), China, dan Uni Eropa bakal melambat.
“Kami memperkirakan sepertiga ekonomi dunia berada dalam resesi. Bahkan negara yang tidak dalam resesi, akan terasa seperti resesi bagi ratusan juta orang,” ujar Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva dalam wawancara dengan CBS Face the Nation, dikutip Rabu (4/1/2023).
Di China, menurut Georgieva, laju ekonomi China pada 2022 kemungkinan di bawah pertumbuhan ekonomi global untuk pertama kalinya dalam 40 tahun karena lonjakan kasus Covid-19.
“Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, pertumbuhan China pada 2022 kemungkinan berada di bawah atau di bawah pertumbuhan global,” kata Georgieva.
Peningkatan kasus Covid-19 setidaknya setahun terakhir membuat Negeri Tirai Bambu tersebut menerapkan sejumlah pembatasan yang membuat aktivitas ekonomi kembali terhambat.
Bahkan, lonjakan baru kasus Covid-19 yang diperkirakan terjadi di China dalam beberapa bulan ke depan kemungkinan akan makin memukul ekonominya tahun ini dan menyeret pertumbuhan regional dan global.
“Untuk beberapa bulan ke depan, akan sulit bagi China, dan dampaknya terhadap pertumbuhan China akan negatif, dampaknya terhadap kawasan akan negatif, dampak terhadap pertumbuhan global akan negatif,” ujar Georgieva.
Sedangkan Risalah The FED Semalam menjelaskan bahwa keputusan untuk menaikkan suku bunga yang lebih kecil tidak boleh ditafsirkan oleh investor atau masyarakat luas sebagai pelemahan komitmen bank sentral untuk membawa inflasi kembali ke target 2,0 persen.
“Menurut saya risalah tersebut tidak menawarkan informasi baru yang signifikan,” kata Brian Daingerfield, kepala strategi valas G10 di NatWest Markets di Stamford, Connecticut. Prospek hawkish The Fed ditangkap oleh revisi yang lebih tinggi dalam ekspektasi rata-rata suku bunga untuk 2023 pada pertemuan Desember dan “tercermin dengan baik dalam konferensi pers dan prakiraan serta pernyataan pada saat itu.” Risalah juga tidak banyak mengubah ekspektasi untuk pertemuan Februari Fed.
Pedagang berjangka dana Fed memperkirakan kemungkinan 67 persen bahwa bank sentral AS akan terus memperlambat laju kenaikan suku bunga pada Februari menjadi 25 basis poin. Kenaikan 50 basis poin pada Desember mengikuti empat kenaikan 75 basis poin berturut-turut.
“Tidak ada petunjuk jelas yang akan saya katakan bahwa Fed condong ke arah pelambatan lebih lanjut atau condong ke arah mempertahankan basis baru pergerakan 50 basis poin yang mereka lakukan pada Desember. Saya pikir itulah alasan utama mengapa kami belum melihat reaksi yang besar,” kata Daingerfield. Sumber CNBC dan Media Indonesia
Faktor Dari Dalam Negeri
Sentimen membaiknya hubungan negara Cina dengan Australia yang berencana kembali membuka pasar impor batu bara dari Australia seiring hubungan bilateral yang membaik, cukup membuat sektor coal dalam negeri potensi tertekan dalam hal expor. Padahal Cina merupakan importir batu bara terbesar dari Indonesia.
Disatu sisi beberapa Fund Manager lokal dan asing mulai meracik kembali portofolio mereka, hal ini sudah terlihat sejak akhir tahun outflow sejak oktober 2022 investor asing di pasar saham Indonesia sudah melakukan net sell 21 Triliun, dimana mereka melarikan dana ke instrumen investasi yang lebih aman seperti Obligasi, Reksa dana Pasar Uang, Emas dan lain sebagainya.



