RADARIDN.COM Pembagian dividen diperkirakan bakal semarak tahun ini seiring dengan meningkatnya kinerja emiten sepanjang tahun lalu. Tapi investor mesti cermat dalam mencari cuan pembagian dividen.
Salah satu risiko dari dividen adalah perangkap dividen alias dividend trap. Dividend trap terjadi ketika harga saham suatu emiten turun karena pembagian dividen. Seringkali, harga saham akan jatuh pada tanggal ex-date dividend.
Analis Mirae Asset Sekuritas Handiman Soetoyo menilai, ada beberapa faktor yang mesti dicermati oleh investor untuk menghindari dividend trap. Misalkan, investor jangan hanya terpaku pada dividend yield tinggi.
Selain itu, investor juga kudu cermati rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio.
Rasio pembayaran dividen lebih dari 100% laba tidak selalu menjadi indikator yang baik, karena rasio ini tidak akan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Baca Juga :Siap-Siap, Kebijakan Auto Reject Bawah Akan Dilakukan Secara Bertahap Mulai 5 Juni 2023. – Radar IDN
Handiman menilai, tidak ada patokan rasio pembayaran dividen karena besaran dividen akan sangat bervariasi antarsektor.
Hanya, dividend payout ratio antara 30% sampai 70% dianggap cukup menarik bagi pemegang saham dan akan mendukung pertumbuhan organik atau anorganik suatu emiten.
Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan mengatakan, semakin besar yield suatu dividen tentu semakin menarik, seperti misal dividen PT Astra International Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR) dan dividen perbankan besar.
Apalagi jika dibandingkan dengan rate deposito bank-bank besar di kisaran 2,5% – 3% untuk jangka waktu satu tahun.
Namun, selain besaran yield, yang perlu menjadi perhatian para investor jangka pendek atau para trader yang mengincar momentum pembagian dividen adalah penurunan harga saham di periode ex-date.
Baca Juga :Mantap, Saham (GTRA) Hari Perdana Listing Sukses AR A, Besok Masih Lanjut ? – Radar IDN
Banyak kejadian saham-saham pada ex date turun sebesar jumlah dividen yang dibagikan atau bahkan lebih besar.
“Hal ini tentu merugikan karena meskipun mendapat dividen namun nilainya/keuntungan dari dividen yang didapat tereliminasi oleh kerugian dari penurunan harga sahamnya. Kondisi ini dinamakan Dividen trap,” kata Alfred
Untuk itu, investor harus menerka pembagian dividen jauh-jauh hari, bahkan sebelum rapat umum pemegang saham (RUPS) yang beragendakan besaran dividen diumumkan. Sebab, memprediksi besaran dividen tidak terlalu sulit.
Investor juga bisa mencermati tipikal laba yang diperoleh, apakah laba musiman (seasonality) laba konstan, atau bahkan bertumbuh. Jika laba berdasarkan seasonality, yield yang tinggi saat ini bisa jadi menurun drastis untuk tahun berikutnya.
Senada, kepada riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono menilai, faktor besaran yield dalam pembagian dividen memang penting. Hanya saja, risiko koreksi akan lebih tinggi jikalau investor melakukan pembelian setelah pengumuman dividen.
Dalam kondisi saat ini, Agus lebih cenderung dividen yang dibagikan oleh emiten big caps, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), UNTR, dan ASII. “Karena investor juga harus melihat kemungkinan penurunan harga setelah cum-date,” kata Agus.
Kata Alfred, di saat harga saham sedang terkoreksi oleh faktor market seperti sekarang, kondisi tersebut bisa menjadi peluang untuk melirik saham high dividend. “Rekomendasi seperti UNTR dan ASII,” pungkas dia.
Sumber : kontan (diolah)



