RADARIDN.COM Harga saham emiten-emiten nikel berpotensi naik didorong oleh terdongkraknya harga nikel dunia. Harga nikel kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 5,2% sejak awal pekan ke level US$ 17.003 per ton pada Senin (5/1), level mingguan tertinggi dalam sembilan bulan terakhir.
“Capaian ini sejalan dengan narasi pasar, di mana Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia menyampaikan rencana pengurangan pasokan untuk menopang harga,” demikian penjelasan Stockbit Sekuritas dalam risetnya dikutip Selasa (6/1).
Harga saham emiten nikel terpantau naik pada perdagangan hari ini. Harga saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melesat 10,17% ke level Rp 1.300, PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) meroket 21,52% ke level Rp 960, sedangan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 0,45% ke level Rp 5.625.
Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana pun memberikan proyeksi dan rekomendasi harga saham emiten nikel untuk 2026. Untuk INCO, Herditya menetapkan area buy on weakness di level support 4.960 dengan resistance 5.925 dan target harga di kisaran 6.050–6.250.
Baca Juga : KSEI Akan Siapkan Data ke BEI. Buat Perubahan Metodologi MSCI 2026 – Radar IDN
Sedangkan untuk saham NCKL direkomendasikan buy on weakness dengan support 1.150, resistance 1.325, dan target harga 1.360–1.420. Adapun saham DKFT direkomendasikan trading buy dengan support 895, resistance 975, serta target harga 1.000–1.070.
Di lain sisi, Stockbit Sekuritas menilai keberlanjutan kenaikan harga nikel sangat bergantung pada keputusan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, terutama terkait besaran kuota dan waktu pengumumannya.
Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati tingginya stok nikel di gudang LME yang mencapai lebih dari 250 ribu ton per 31 Desember 2025. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata stok sepanjang 2025 yang sekitar 212 ribu ton, serta awal 2025 yang berada di kisaran 160 ribu ton.
Kondisi ini berpotensi membatasi ruang kenaikan harga nikel ke depan. Pemerintah sebelumnya berencana memangkas target produksi bijih nikel pada 2026. Pemerintah disebut akan menetapkan kuota produksi sekitar 250 juta ton dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, turun sekitar 34% dibandingkan target RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga harga nikel global agar tidak semakin tertekan akibat kelebihan pasokan.
Sumber : katadata



